Rabi’ah Al-’Adawiyah

Oleh : Abdul Wahid
Dalam khasanah dunia tasawuf, Rabi’ah Al-adawiyah adalah sebuah nama yang selalu disebut-sebut. Rabi’ah hadir dengan satu konsep mahabbahnya kepada Allah SWT., menurut Rabi’ah, atas dasar cinta kepada Allahlah seharusnya manusia menjalani hidup ini, bukan karena yang lainnya.
Nama lengkap Rabi’ah adalah Ummu al-Khair Rabi’ah Binti Isma’il Al-Adawiyah al-Qisiyah. Dia lahir di Bashrah pada tahun 96 H/713 M. Rabi’ah berasal berasal dari keluarga miskin, dan dari kecil tinggal di kota kelahirannya.
Selama hidupnya Rabi’ah Al-Adawiyah tidak menikah. Beliau merupakan wanita zahidah yang selalu menampik lamaran setiap pria yang datang dengan mengatakan : ”Akad Nikah adalah hak pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku, hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri!, aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milikNya. Aku hidup dalam naungan firmanNya. Akad nikah mesti diminta dariNya, bukan dariku.”
Pokok-Pokok Ajaran
Isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi, melakukan amal shalih bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, akan tetapi karena cintanya kepada Allah SWT. Cintalah yang mendorongnya selalu dekat dengan Allah SWT, dan cinta itu pulalah yang membuatnya sedih dan menangis karena takut terpisah dari Zat yang dicintainya. Pendek kata, Allah bagi Rabi’ah adalah Zat yang dicintainya, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Dalam sebuah kisah diungkapkan betapa Rabi’ah sangat cinta kepada tuhannya. Disamping jawaban diatas, ketika Hasan Bashri datang untuk melamarnya, Rabi’ah justru mengajukan sarat dengan empat pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah :
Pertama; ”Apakah yang akan dikatakan oleh hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam ataukah murtad?”.
Kedua; ”Pada waktu aku dalam kubur nanti, disaat malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku nanti, dapatkah aku menjawabnya?”.
Ketiga; ”Pada saat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar di hari perhitungan nanti, semua akan menerima buku di tangan kanan dan di tangan kiri, bagaimana denganku, apakah akan menerima di tangan kanan ataukah tangan kiri?”.
Dan keempat;”Pada saat hari perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga, dan sebagian lain masuk neraka, dimanakah aku akan berada?” Dengan pertanyaan-petanyaan semacam ini tentu Hasan Basri tidak mampu untuk menjawabnya, sehingga tidak berhasil menyunting Rabi’ah.
Keengganan Rabi’ah untuk menikah, nampaknya cukup bagi kita untuk menilai betapa sosok Rabi’ah rela melakukan apapun demi mewujudkan rasa cintanya kepada Allah SWT. Walaupun dari sudut pandang yang lain, hal ini masih dapat diperdebatkan. Sebab menikah adalah sesuatu yang bernilai sunnah dari kaca mata fiqih. Bahkan Rasulullah menganggap bukan termasuk golongan beliau bagi mereka yang tidak mau melaksanakannya karena alasan yang tidak kuat.
Alasan kecintaan kepada Allah yang dikemukakan oleh Rabi’ah, barangkali alasan yang bersifat subyektif. Karena memang mahabbah, khauf, dan raja’ adalah sesuatu yang berada pada wilayah rasa. Dan yang namanya rasa adalah subyektif, tergantung kondisi orangnya, yang dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, keimanan, pengalaman batin, ruhani dan sebagainya.

Al-Hujwiri dalam Kasyf Al-Mahjub, sebagaimana dikutip oleh Asmaran, A.S menyatakan sepenggal kisah Rabi’ah Al-Adawiyah : ”Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah Al-Adawiyah : ”Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!” Rabi’ah kemudian menjawab :”Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya, maka bagaimana bisa meminta hal itu kepada orang yang bukan pemiliknya”.
Nampak jelas bahwa betapa Rabi’ah selalu mengembalikan segala sesuatunya kepada pemiliknya, dalam hal ini adalah allah SWT. Rabi’ah tidak mau ada Zat selain Allah SWT. yang menjadi sumber kehidupannya.
Konsep kecintaan (al hub) ini kemudian memancar dalam seluruh hidupnya, sehingga selama hidup ia selalu beribadah, bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan kepadanya. Bahkan dalam do’anya ia tidak mau meminta hal-hal yang berbau materi kepada Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Tuhan.
Allah SWT. bagi Rabi’ah adalah Zat yang dicintai, bukan seuatu yang harus di takuti. Dalam hal ini ia pernah berucap : ”Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka…..bukan pula karena ingin masuk surga……tetapi aku mengabdi karena aku mencintaiNya. Tuhanku, jika kupuja engkau karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya; dan jika kupuji Engkau karena mengharap surga, jauhkanlah aku dari padanya; tetapi jika kupuja engkau karena semata-mata karena engkau, maka janganlah engkau sembunyikan kecantikanMu yang kekal itu dari diriku.”
Dalam syair yang lain Rabi’ah berucap :
Engkau durhaka kepada Tuhan di dalam bathin
Tetapi di lidah engkau menyebut taat kepadaNya
Demi umurku, ini perbuatan yang amat ganjil
Jika cinta sejati, tentu kau turut apa kata perintah
Karena pecinta, ke yang di cinta taat dan patuh
Nampak jelas dari puisi-puisi Rabia’ah tersebut bahwa yang mendasari interaksi antara dia dengan Tuhan adalah cinta, bukan yang lainnya, seperti harapan-harapan untuk mendapat balasan dari Allah, ataupun sebaliknya karena rasa takut akan ancaman-ancaman siksa Allah. Memang, rasa cinta itu akan merubah segalanya. Orang yang sedang dimabuk cinta akan melalukan apapun yang diinginkan oleh yang dicintainya, apaun halangan yang merintang, seterjal apapun medan yang harus ia lalui, setinggi apapun bukit yang harus ia daki, securam apapun jurang yang harus ia turuni, demi sang kekasih hati, maka apapun akan ia lakukan.
Pada dasarnya konsep al-hub yang dikembangkan oleh Rabi’ah merupakan hasil pengembangan konsep zuhudnya Hasan Al-Bashri. Konsep zuhud Hasan Al-Bashri adalah karena khauf (takut) dan raja’ (harapan). Oleh Rabi’ah kemudian diubah menjadi zuhud karena cinta kepada Allah SWT.
R.A. Nicholson, seorang orientalis menganggap sangat penting kedudukan Rabi’ah karena ia menandai konsep zuhud dengan corak yang lain dari konsepnya Hasan Al-Bashri yang ditandai dengan rasa takut. Rabi’ah melengkapinya dengan unsur baru, yaitu cinta, yang menjadi sarana manusia dalam merenungkan keindahan Allah SWT. yang abadi. Hal ini tampak dalam beberapa puisinya yang lain.
Di saat melakukan munajat, Rabi’ah berdialog dengan Tuhan sebagai berikut: ”Tuhanku, bintang-bintang di langit telah gemerlapan, orang-orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah ditutup dan pada saat itulah semua pecinta telah menyendiri dengan yang dicintainya. Inilah aku berada di hadiratMu.”
Pada saat yang lain ia berujar : ”Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakan diri. Aku gelisah, apakah amalanku Engkau terima hingga aku merasa bahagia, ataukah engkau tolak hingga aku merasa sedih. Demi kemahakuasaanMu, inilah yang yang akan kulakukan selama aku engkau beri hayat. Sekiranya aku engkau usir dari pintuMu, aku tidak akan pergi, karena cintaku padaMu telah memenuhi seluruh lorong hatiku.”
Barangkali inilah gambaran sederhana dari kondisi ruhani Rabi’ah yang begitu menggebu cintanya kepada allah SWT. Ia tidak mempedulikan apapun yang menimpa dirinya, harta, dan kedudukan tidak ia hiraukan, bahkan sampai untuk berumah tanggapun rela ia tanggalkan demi untuk mengejar kecintaannya kepada Allah SWT.
Pelajaran berharga dari Rabi’ah adalah betapa sesungguhnya kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya mengalahkan segalanya dalam hidupnya. Walaupun memang masih ada hal yang kemudian diperdebatkan oleh para ahli tentang sosok Rabi’ah ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup Rabi’ah ini. Wallahu a’lam bi shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s